Kamis, 01 Januari 2009

Contoh-Contoh Disfungsi Ereksi Ringan

Contoh-Contoh Disfungsi Ereksi Ringan

Disfungsi ereksi yang ringan adalah Keadaan dimana ereksi penis sekali-sekali terganggu sehingga tidak mampu melakukan koitus sampai ejakulasi. Bila masih cukup sering berhasil, maka sebagian besar penderita tidak pergi ke dokter. Kadang-kadang menunggu sampai 3 bulan bahkan sampai 6 bulan, dan biasanya lama-kelamaan gangguan ereksi akan memburuk. Bila ereksi terganggu dan pasangan tidak puas, maka akhirnya tiap akan koitus, timbul perasaan khawatir apakah koitus akan berhasil. Kekhawatiran akan membuat kualitas ereksi makin memburuk.

Contoh-contoh difungsi ereksi yang ringan:

Ereksi bisa dicapai pada saat bercumbu sampai penetrasi, tetapi koitus tidak bisa selesai sampai ejakulasi karena ereksi yang berkurang atau penis menjadi lembek sebelum ejakulasi. Akhirnya penis ditarik dari vagina lalu istri merangsangnya kembali dan penis bisa keras lagi dan koitus diulang dan bisa selesai. Walau kadang gagal seperti di atas, tetapi sekali-sekali ereksi masih bisa bertahan sampai ejakulasi di dalam vagina. Ini berarti sekali-sekali mengalami gangguan ereksi tetapi bisa ditolong sendiri sampai berhasil.

Ereksi sering sulit dicapai pada saat bercumbu sehingga gagal melakukan penetrasi. Tetapi sekali-sekali koitus bisa dilakukan dengan ereksi yang cukup keras sampai ejakulasi sehingga suami dan istri merasa puas.

Orang yang berpacaran atau berkencan, ereksi dirasakan tidak cukup keras, tetapi pada saat masturbasi ereksi keras dan normal. Walaupun tidak ada rencana untuk melakukan koitus, tetapi kegagalan ereksi saat berkencan akan menyebabkan kekecewaan dan ketakutan bagi keduanya. Pria merasa malu kepada pasangannya. Jika pasangan itu sudah menikah maka istri sangat kecewa. Kadang-kadang wanita berkomentar negatif, "Kok tidak keras, kenapa bisa begitu? Apa tidak cinta lagi kepada saya?" Atau wajah istri cemberut sehingga suaminya merasa sedih dan kecewa. Selanjutnya kualitas ereksi bisa makin memburuk.

Kadang ereksi bisa dicapai dan koitus bisa berlangsung sampai ejakulasi dengan wanita lain tetapi dengan istri sering gagal. Sebagian ahli mengatakan ini tidak termasuk gangguan disfungsi ereksi. Menurut penulis, ini sudah temasuk disfungsi ereksi. Pegangan yang utama ialah dengan pasangan perkawinan. Bila seseorang gagal melakukan koitus karena ereksi yang tidak sempurna dengan istri sudah termasuk disfungsi ereksi. Sebaliknya bila dengan istri ereksi bisa dicapai dengan normal dan koitus bisa berlangsung dengan sempurna, tetapi dengan wanita lain tidak bisa mencapai ereksi secara normal. Ini pun menjadi masalah apakah termasuk gangguan disfungsi ereksi. Pegangan utama ialah ereksi penis bisa dicapai dengan cukup sehingga koitus bisa berlangsung dengan istri. Jadi, ini dimasukkan suatu disfungsi ereksi pada keadaan yang khusus.
 

Mengukur Tingkat Beratnya Disfungsi Ereksi Menggunakan Index IIEF

Mengukur Tingkat Beratnya Disfungsi Ereksi Menggunakan Index IIEF 

Ukuran berat ringan disfungsi ereksi banyak dipakai di klinik-klinik pengobatan. Sifatnya lebih kualitatif sehingga sulit dipakai untuk penelitian. Dalam penelitian dibutuhkan pengukuran yang lebih tepat. Untuk itu telah diciptakan suatu instrumen berupa questionaire sebagai pengukur. 

Dengan mengisi questionaire ini dokter atau pasien sendiri dapat mengetahui berat ringannya disfungsi ereksi yang dialami. Walaupun alat ini hanya mengukur performa ereksi dan bukan penyebabnya, tetapi bisa memberi informasi keadaannya. Dengan demikian dokter dan pasien mempunyai suatu tolok ukur yang sama untuk menentukan keadaan. 

Selanjutnya dokter dapat membuat rencana tindakan. Bila dengan pengukuran dapat diketahui bahwa tingkat beratnya disfungsi ereksi masih ringan atau sedang, maka pasien akan lebih gembira dan berpengharapan bahwa gangguan disfungsi ereksi yang dialami akan lebih mudah sembuh dan memerlukan waktu pengobatan yang lebih singkat. Bila kelihatan dari pengukuran bahwa keadaannya berat, diharapkan dokter maupun pasien akan lebih serius dalam pengobatan.

Instrumen ini disebut IIEF (International Index Of Erectile Function, Lq Rosen Raymond C., Riley Alan, Wagner Gorm et al 1997) atau biasa disingkat Index IIEF. Instrumen ini diciptakan oleh suatu committee dan karena sangat luas dan rumit kemudian disederhanakan sehingga lebih mudah dipakai sebagai berikut. 

Dari 15 pertanyaan pada index IIEF, kemudian akan diambil lima pertanyaan yang dianggap cukup mewakili semua pertanyaan, sehingga index ini disebut IIEF-5.

Penentuan berat ringannya disfungsi ereksi dengan cara di atas sangat membantu untuk tujuan penelitian. Penerapannya di klinik atau praktik agak sulit. Di klinik lebih dipentingkan sejarah atau perkembangan disfungsi ereksi dari permulaan sampai saat konsultasi. Di samping itu perlu juga diketahui penyakit-penyakit atau gangguan lain yang mungkin menjadi penyebab atau penyerta. 

Selanjutnya penting pula ditanyai bagaimana pola hidup penderita serta hubungan suami istri. Dengan cara demikian dokter atau terapis akan mengetahui lengkap tentang disfungsi ereksi yang dialami ditambah hampir seluruh latar belakang hidupnya. Dapat pula ditentukan berat ringannya disfungsi ereksi, program pengobatan dan prognosa atau kemungkinan tercapainya kesembuhan.

Faktor Psikogen Untuk Mencapai Ereksi Penis yang Normal

Faktor Psikogen Untuk Mencapai Ereksi Penis yang Normal

Stimulasi seksual berasal dari insting dan pikiran yakni keinginan melakukan aktivitas seksual yang timbul sendiri atau adanya fantasi dalam otak. Bisa juga terjadi melalui pancaindera yakni mata, hidung, telinga, kulit yang diteruskan ke otak. Bila stimulasi seksual sesuai dengan keinginan otak dan perasaan, impuls diteruskan ke hipotalamus lalu mengirim impuls tersebut ke organ-organ seks melalui syaraf parasimpatis.

Di dalam otak perlu ada dukungan faktor psikogen. Dibutuhkan pikiran dan perasaan yang menginginkan stimulasi seks tersebut. Bila stimulasi seks tidak disukai atau dilarang oleh pikiran dan perasaan, maka otak tidak mengirim impuls ke hipotalamus dan seterusnya sehingga ereksi tidak terjadi. Begitu juga bila ada gangguan fungsi dalam otak misalnya karena kecemasan, marah, kecewa dan terutama depresi, maka pengiriman impuls ke hipotalamus terganggu. Dalam keadaan depresi, transmisi dari impuls dalam seluruh rangkaian syaraf tidak terjadi sehingga penis tidak eeksi sama sekali. Jadi, hanya bila stimulasi dibolehkan oleh otak dan susunan syaraf yang dilalui bekerja dengan normal, maka impuls untuk ereksi akan terkirim dengan cukup. 

Kadang-kadang, faktor psikogen ini pun bisa bercampur-baur ataupun sering berlawanan. Misalnya seorang pria yang sangat menginginkan koiitus dengan seorang wanita bukan istrinya. Jadi, secara umum keinginan koitusnya besar tetapi timbul perasaan berdosa atau takut penyakit yang terbentuk berupa kecemasan.

Walaupun keinginan kuat tetapi karena terhambat kecemasan dalam diri maka ereksi yang pada mulanya begitu kuat, secara tiba-tiba bisa langsung menurun dan ereksi tidak terjadi. Bisa juga terjadi, misalnya seorang suami yang ingin atau sedang koitus dengan istri. Mereka telah memuulainya dengan balk, ereksi cukup keras lalu melakukan penetrasi dan penis bisa terus ereksi dengan keras selama koitus. Tiba-tiba ia teringat peristiwa istrinya pernah dicurigai melakukan hubungan gelap dengan pria lain maka secara otomatis impuls atau rangsangan akan berhenti dan ereksi akan akan berhenti juga. Demikian banyak faktor psikogen ini bercampur-baur di dalam susunan syaraf manusia sehingga perlu menelitinya secara luas dan tajam.

Foto untuk artikel Anatomy Penis



Anatomy Penis

Penis adalah organ seks utama yang letaknya di antara kedua pangkal paha. Penis mulai dari arcus pubis menonjol ke depan berbentuk bulat panjang. Dari pangkal ke ujung berbentuk cendawan dengan kepala penis seperti kepala cendawan tetapi bagian ujungnya agak meruncing ke depan. 

Kadang-kadang orang menyebut penis berbentuk ular di mana kepala penis menjadi kepala ular atau mirip kepala ikan belut.

Pada saat istirahat, foto penis mengecil dan lembek sehingga kelihatan tergantung tidak berdaya. 

Tetapi pada saat terangsang, penis akan menegang dan keras dan disebut ereksi. Ereksi yang penuh menyebabkan penis berdiri tegak ke depan atau ke atas dengan seluruh permukaan menjadi keras seperti tongkat atau batang yang tidak bisa dibengkokkan. Kondisi ini disebut ereksi penis yang normal dimana ukuran penis yang mengalami ereksi penuh berarti penis tidak bisa dibengkokkan atau ditekuk. 

Panjang penis orang Indonesia waktu lembek dengan mengukur dari pangkal dan ditarik sampai ujung sekitar 9 sampai 12 cm. Sebagian ada yang lebih pendek dan sebagian lagi ada yang lebih panjang. Pada saat ereksi yang penuh, penis akan memanjang dan membesar sehingga menjadi sekitar 10 c m sampai 14 cm. Pada orang barat (caucasian) atau orang Timur Tengah lebih panjang dan lebih besar yakni sekitar 12,2 cm sampai 15,4 cm.

Bagian utama daripada penis adalah bagian erektil atau bagian yang bisa mengecil atau melembek dan bisa membesar sampai keras. Bila dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni 2 batang korpus kavernosa di kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah disebut korpus spongiosa. Kedua korpus kara kavernosa ini diliputi oleh jaringan ikat yang disebut tunica albuginea, satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan di luarnya ada jaringan yang kurang padat yang disebut fascia buck.



 

Korpus kavernosa terdiri dari gelembung-gelembung yang disebut sinusoid. Dinding dalam atau endothel sangat berperan untuk bereaksi kimiawi untuk menghasilkan ereksi. Ini diperdarahi oleh arteriol yang disebut arteria helicina. Seluruh sinusoid diliputi otot polos yang disebut trabekel.

Selanjutnya sinusoid berhubungan dengan venula (sistem pembuluh balik) yang mengumpulkan darah menjadi suatu pleksus vena lalu akhirnya mengalirkan darah kembali melalui vena dorsalis profunda dan kembali ke tubuh.

Penis dipersyarafi oleh 2 jenis syaraf yakni syaraf otonom (para simpatis dan simpatis) dan syaraf somatik (motoris dan sensoris). Syaraf-syaraf simpatis dan parasimpatis berasal dari hipotalamus menuju ke penis melalui medulla spinalis (sumsum tulang belakang). Khusus syaraf otonom parasimpatis ke luar dari medulla spinalis (sumsum tulang belakang) pada kolumna vertebralis di S2-4. Sebaliknya syaraf simpatis ke luar dari kolumna vertebralis melalui segmen Th 11 sampai L2 dan akhirnya parasimpatis dan simpatis menyatu menjadi nervus kavernosa. Syaraf ini memasuki penis pada pangkalnya dan mempersyarafi otot- otot polos

Syaraf somatis terutama yang bersifat sensoris yakni yang membawa impuls (rangsang) dari penis misalnya bila mendapatkan stimulasi yaitu rabaan pada badan penis dan kepala penis (glans), membentuk nervus dorsalis penis yang menyatu dengan syaraf-syaraf lain yang membentuk nervus pudendus. 

Syaraf ini juga berlanjut ke kelumna vertebralis (sumsum tulang belakang) melalui kolumna vertebralis S2-4. Stimulasi dari penis atau dari otak secara sendiri atau bersama-sama melalui syaraf-syaraf di atas akan menghasilkan ereksi penis.

Pendarahan untuk penis berasal dari arteri pudenda interna lalu menjadi arteria penis communis yang bercabang 3 yakni 2 cabang ke masing-masing yakni ke korpus kavernosa kiri dan kanan yang kemudian menjadi arteria kavernosa atau arteria penis profundus yang ketiga ialah arteria bulbourethralis untuk korpus spongiosum. Arteria memasuki korpus kavernosa lalu bercabang-cabang menjadi arteriol-arteriol helicina yang bentuknya berkelok-kelok pada saat penis lembek atau tidak ereksi. Pada keadaan ereksi, arteriol-arteriol helicina mengalami relaksasi atau pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah bertambah besar dan cepat kemudian berkumpul di dalam rongga-rongga lakunar atau sinusoid. Rongga sinusoid membesar sehingga terjadilah ereksi.

Sebaliknya darah yang mengalir dari sinusoid ke luar melalui satu pleksus yang terletak di bawah tunica albugenia. Bila sinusoid dan trabekel tadi mengembang karena berkumpulnya darah di seluruh korpus kavernosa, maka vena-vena di sekitarnya menjadi tertekan. Vena-vena di bawah tunica albuginea ini bergabung membentuk vena dorsalis profunda lalu ke luar dari Corpora Cavernosa pada rongga penis ke sistem vena yang besar dan akhirnya kembali ke jantung.

Mengobati Disfungsi Ereksi

Mengobati Disfungsi Ereksi
Ereksi Bisa Terganggu Suatu Waktu

Ereksi penis bisa terganggu. Gangguan bisa berlangsung sementara atau dalam waktu yang cukup lama bahkan bisa seumur hidup bila tidak diobati. Gangguan sementara bisa terjadi karena gangguan ringan seperti terlalu lelah, kurang tidur, stres dan lain-lain. Sesudah tidur atau istirahat, ereksi akan kembali normal. Biasanya masalah ini bisa diatas dengan menggunakan ramuan dan resep-resep tradisional.

Sesudah mengatasi masalah yang menyebabkan stres hilang, ereksi bisa pulih kembali. Demikian juga penyakit-penyakit akut seperti flu, diare, demam dan lain-lain. Keadaan-keadaan seperti itu akan menyebabkan ereksi menurun. Tetapi karena sedang menderita penyakit yang jelas, tidak timbul masalah. Istri pun akan mengerti. Lagi pula saat sakit keinginan seks menurun dan istri pun menerima sehingga tidak menuntut. Sesudah penyakit sembuh, beberapa lama kemudian ereksi pun kembali normal.

Suatu waktu ereksi bisa turun tanpa diketahui penyebab yang jelas. Pada saat melakukan koitus dengan istri, kadang-kadang ereksi bisa keras tetapi saat mau penetrasi lembek kembali. Ada pula yang merasa pada waktu permulaan normal, bisa penetrasi, tetapi di tengah jalan ereksi turun. Dan yang lebih berat lagi ialah pada saat bercumbu pun ereksi tidak mengeras. Pada saat istri memegang penis, penis tetap lembek. Beberapa lama kemudian dicoba lagi, namun ereksi tidak bisa normal.

Jika beberapa kali gagal, sebagian besar pria akan ketakutan. "Aduh, kenapa ini? Apakah ereksi saya bisa kembali normal? Apakah gangguan ini akan berlangsung terus? Bagaimana istri saya? Jangan-jangan nanti tergoda dengan pria lain." Berbagai macam kekhawatiran dan kegelisahan timbul. Dalam keadaan demikian ereksi akan makin lemah. Semangat hidup turun. Hubungan suami istri menjadi dingin dan kadang-kadang sampai terjadi percelccokan suami-istri.

 



 

Di samping itu juga istri akan kecewa. Ada yang sampai marah-marah. Ada pula yang mencurigai suaminya yang jatuh cinta atau selingkuh dengan wanita lain. Menurut pikirannya suaminya sehat-sehat saja, dari dulu ereksi normal, kenapa tiba-tiba tidak mampu lagi. Menurut pikirannya tidak mungkin terjadi tanpa penyebab. Jadi, timbul dalam pikirannya bahwa suami telah menyeleweng. 

Dalam keadaan demikian, maka istri menuduh suaminya tidak mencintainya lagi.
Dalam keadaan ereksi tidak kembali pulih yang berlangsung beberapa lama, ada suami yang menyerah mengizinkan bahkan mendorong istrinya untuk melakukan koitus dengan pria lain agar istri tidak menderita. Suami mengakui kesalahan atau kelemahannya. Artinya perkawinan bahkan rumah tangga bisa hancur karena disfungsi ereksi.

Dalam keadaan seperti di atas ada orang yang cepat bertindak dan berobat kepada ahlinya. Karena cepat berobat gangguan tidak sampai berkepanjangan, dan umumnya ereksi mudah dipulihkan kembali dan hubungan suami istri kembali normal. Namun, sebagian ragu dan ragu-ragu sampai lama tidak mengambil tindakan. Akhirnya disfungsi ereksi berlangsung terus dan suami-istri menderita bahkan bisa bercerai sebagai akibatnya.

Penderita yang lain didorong bahkan dipaksa oleh istri. Ada istri yang mengancam cerai bila suami tidak berobat. Suami terpaksa menurut dan berobat. Bila tindakan ini cepat dilakukan, besar kemungkinan ereksi akan cepat pulih dan kehidupan suami istri akan bahagia kembali.

Ada pula suami yang malu berobat. Justru inilah yang paling banyak. Menurut perasaannya, gangguan seks, kehidupan di kamar tidur tidak pantas dibuka kepada orang lain termasuk kepada dokter. Karena merasa malu, maka penyakitnya dibiarkan terus. Oleh karena itu, ada istri yang meminta cerai sungguh-sungguh dan akhirnya benar-benar bercerai. Ada pula istri yang selingkuh dengan pria lain. Ada yang cekcok terus tidak habis-habisnya. Akibatnya semua kehidupan perkawinan hancur berantakan.
Mengobati Disfungsi Ereksi

Keadaan seperti di atas tidak perlu terjadi dan tidak perlu malu. Hampir semua pria pernah mengalami ereksi yang lemah sehingga gagal koitus. Tidak mungkin selama hidup ereksi normal dan koitus memuaskan. Penyebabnya ialah karena penis tidak mempunyai tulang, penis hanya terdiri dari jaringan dari rongga-rongga yang sifatnya lembek. Hanya bila diisi darah penuh barulah penis besar dan bisa keras. Tetapi bila ereksi gagal beberapa kali, sebaiknya langsung bertindak untuk mendapatkan pengobatan yang tepat sehingga cepat pulih. Jadi, tidak perlu malu karena hampir semua pria pernah mengalaminya.

Dengan menunda pengobatan/konsultasi, maka penyakit disfungsi ereksi makin berat. Sebagian penyebabnya ialah penyakit-penyakit kronik yang tidak kelihatan dari luar, tetapi terus memburuk di dalam tubuh. Sebagian terjadi karena stres yang berat atau konflik suami istri yang serius. Jika dibiarkan, penyakit penyebab di dalam tubuh misalnya diabetes mellitus, penyakit hati dan lain-lain akan makin berat. Konflik suami istri makin parah. Disfungsi ereksi makin sulit disembuhkan dan akhirnya semua kehidupan rusak.

Dalam 10 tahun belakangan ini, pengetahuan tentang fisiologi ereksi, penyebab dan pengobatan disfungsi ereksi sudah diketahui. Hampir tidak ada lagi gangguan disfungsi ereksi yang tidak diketahui prosesnya.

Demikian juga terapi dan pengobatannya sudah mendekati lengkap. Dengan kemajuan tersebut sebenarnya pengobatan disfungsi ereksi yang cepat dilakukan sangat membantu mempercepat penyembuhan. Bila disfungsi ereksi baru berlangsung sekitar 1-3 bulan tanpa penyebab yang berat atau tanpa penyakit penyerta (comorbidities) yang serius, hampir semua gangguan disfungsi ereksi bisa sembuh dalam waktu yang singkat misalnya sekitar 1 bulan. Yang penting segera berobat kepada dokter ahli, penyakit sembuh, hidup kembali normal dan keluarga bahagia. (NL Tobing)

Ereksi Pada Saat Berkencan

Ereksi Pada Saat Berkencan

Banyak pria yang telah berpacaran saat umur mereka mencapai 17 atau 18 tahun. Kadang-kadang, pacaran mereka itu disebut kencan atau date, atau sering juga disebut jalan bareng. Jalan bareng artinya tidak ada ikatan yang resmi dalam hubungan. Istilah anak muda adalah Hubungan Tanpa Status.

Biasanya saat kencan atau jalan bareng itu, pria dan wanita saling berpegangan tangan di jalanan atau nonton bareng di bioskop. Biasanya penis pria bereaksi saat tangan mereka saling berpegangan sampai saling meremas. Saat itu, penis akan ereksi keras sampai kaku dan akan bertahan cukup lama. Sesudah beberapa menit, ereksi akan menurun sedikit, tetapi bila perasaan gairah seksual masih tinggi atau saling sentuh masih terjadi, ereksi penis akan keras kembali. 

Begitulah yang terjadi berulang-ulang. Selama berkencan yang bisa berlangsung singkat atau lebih lama misalnya 2-3 jam, ereksi penis bisa terus terjadi. Ereksi baru akan turun bila kencan sudah selesai, atau terjadi ejakulasi, atau ada yang mengganggu misalnya tiba-tiba ada orang yang melihat, cahaya menjadi terang atau perasaan tiba-tiba terganggu. Bila kencan dilakukan tertutup lalu ada yang mengetok pintu, ereksi akan langsung turun dan penis menjadi lembek.

 



 

Ereksi penis pada saat kencan sangat penting sekali. Pada saat itu. orang akan merasakan gairah sehingga diharapkan penis harus ereksi. Pada jaman sekarang, banyak pasangan muda saat berkencan sudah saling memegang alat kelamin pasangannya. Bila wanita memegang penis laki seharusnya penis akan ereksi keras. Namun, ada juga pria yang merasa takut, gelisah, atau sebenarnya merasa berdosa, sehingga pada saat dipegang pun ereksi yang keras tidak akan terjadi. 

Perasaan takut atau berdosa tadi tidak begitu disadari. Yang disadari betul ialah waktu penis dipegang ereksi tidak terjadi. Ini menjadi gangguan yang berat bagi pria. Wanita pun mengharapkan dan mengetahui pada saat berkencan apalagi penis dipegang maka ereksi penis harus keras. Bila hal itu tidak terjadi maka wanita akan merasa kecewa dan pria umumnya akan merasa malu dan takut. 

Selanjutnya setiap mau kencan akan timbul rasa takut, "Jangan-jangan penis akan tetap lembek". Setiap rasa takut timbul, maka penis tidak akan mungkin lagi ereksi. Paling tinggi agak membesar sedikit lalu lembek kembali. Ini cukup sering terjadi pada orang-orang yang berpacaran. (NL Tobing)